Article
Peran Desain dalam Industri Kreatif Indonesia by winasukowati

Dalam perjalanan menuju tempat berlatih equestrian setiap hari Sabtu dan Minggu di daerah Sawangan, Depok, sering kali saya memperhatikan berbagai macam toko yang menawarkan handmade art works seperti pintu ukir-ukiran Jawa, ukiran batu alam dan berbagai macam furniture yang terbuat dari kayu dan rotan. Tentunya hal ini sangatlah langka untuk kita temui di negara maju seperti Amerika, Australia atau pun negara-negara di Eropa. Namun sayangnya produk made in Indonesia yang sangat beragam seperti sepatu Cibaduyut, garment dari Bandung, kerajinan kayu dari Jepara, kain songket dari Palembang, dan kain ikat dari Sumba masih belum dapat berkembang secara maksimal dan kurang mendapat perhatian dunia internasional.

Memang tidak semuanya tidak berhasil menembus pasar internasional, hasil kerajinan yang berasal dari Bali misalnya, telah berhasil menjadi rising star dibandingkan dengan yang berasal dari daerah lain. Tetapi kemudian pertanyaannya sekarang apa yang membuat Bali berbeda? Salah satunya dapat dipengaruhi oleh banyaknya fashion/interior designer dan seniman mancanegara yang datang sejak era 1920an dan membuat karyanya di Bali, seperti Paul Gauguin, Antonio Blanco, kemudian Susanna Perini asal Italia dengan fashion label-nya Biasa. Yang kemudian dapat membuat Bali jauh lebih unggul di dalam kualitas desain dan finishing touch walaupun sebagai trade off harganya pun menjulang tinggi dan kurang terjangkau bagi mayoritas masyarakat di Indonesia.

Lebih lagi pada saat saya menghadiri acara Trade Expo Indonesia tahun lalu, produk furniture unggulan dengan kualitas desain dan finishing touch sangat baik seperti yang diproduksi oleh Wicker Kane Gracia hanya ditujukan untuk ekspor dan tidak dapat dibeli secara langsung di dalam pasar Indonesia. Lagi-lagi designer-nya adalah orang asli Spanyol, di mana hanya proses produksi saja yang dilakukan di Cirebon, Indonesia.

Kemudian pertanyaannya adalah bagaimana industri kreatif Indonesia dapat bersaing dengan negara-negara lain sekaligus dapat dinikmati oleh masyarakat Indonesia sendiri? Di mana Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki potensi pasar yang sangat diminati oleh merk-merk ternama internasional. Pada saat yang bersamaan juga memiliki kemampuan untuk memproduksi produk sendiri dengan masih terjangkaunya biaya tenaga kerja untuk menghasilkan barang-barang buatan tangan (hand made products) dibandingkan dengan negara-negara maju.

Melihat potensi ini, dalam rangka membangun hubungan kedua negara, Inggris dan Indonesia di bidang pendidikan, Duta Besar Inggris untuk Indonesia memberikan bantuan berupa dana sebesar £130,000 untuk sebelas universitas dan dua institusi pendidikan di Indonesia yang memiliki program pendidikan yang berhubungan dengan industri kreatif, seperti seni (art), music, film, photography dan fashion. Bidang-bidang pendidikan yang cenderung baru dan beberapa dekade lalu bukan menjadi pilihan utama di kalangan masyarakat Indonesia.

Tentunya hal ini sesuai dengan program yang sedang dikembangkan oleh Menteri Perdagangan Indonesia, Ibu Mari E Pangestu yaitu industri berbasis pengetahuan dibandingkan manufaktur. Dibuktikan dengan dukungan berupa soft loan kepada young creative entrepreneur yang baru pertama kali memulai usahanya. Yang juga didukung oleh Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, Bapak Syarifudin Hasan dengan memberikan fasilitas pinjaman seperti Mandiri Entrepreneur (kolaborasi dengan Bank Mandiri), di mana para young entrepreneurs ini dapat meminjam modal usahanya tanpa agunan.

Lebih lagi Ibu Mari E Pangestu juga berkomitmen untuk membantu pengusaha-pengusaha yang berkecimpung di dalam industri kreatif untuk mendapatkan cara yang lebih mudah dalam mengurus perlindungan hak cipta mereka dengan cara memberikan pentunjuk yang jelas untuk mendaftarkan dan mendapatkan perlindungan hak cipta secara lebih mudah dengan biaya yang terjangkau.

Inggris sebagai salah satu contoh negara yang telah berhasil mengimplementasikan metode industri berbasis pengetahuan yang didukung oleh sektor pendidikan yang juga menawarkan jurusan dan bidang studi ilmu kreatif seperti musik, olah raga, fesyen, seni dan desain yang dipadukan dengan ilmu marketing dan manajemen.

Fenomena ini akan menjadi the current dan next big thing di Indonesia, didukung dengan semakin banyaknya intitusi pendidikan seperti Universitas Pelita Harapan (UPH) yang mulai mengembangkan ilmu manajemen di dalam bidang craft business, Universitas Multimedia Nusantara (UMN) dengan konsentrasi bidang multimedia, graphic design dan journalism, Bina Nusantara (Binus) yang menawarkan jurusan di film, fashion design dan fashion business. Ditambah lagi dengan Uni Sadha Guna, Lasalle dan Raffles Design Institute Jakarta yang fokus kepada art dan design.

Success stories pun mulai bermunculan seperti salah satu teman saya yang telah berhasil meraih kesuksesan sebagai graphic designer dan memiliki perusahaan graphic design sendiri yang bernama Bentuk. Hanya dengan modal yang relative menengah, Bentuk dapat berkembang dengan menawarkan jasa dari pembuatan desain corporate logo, company profile, financial report sampai environmental layout untuk major property developer seperti Ciputra dan Agung Podomoro. Hal ini telah membuktikan bagaimana keberhasilan dapat diraih melalui industri kreatif.

Lahirnya Jakarta Fashion Week pada tahun 2008 yang masih berjalan sampai sekarang juga telah membuktikan bahwa ada kemajuan pesat dalam fashion industry, di mana lebih dari 100 perancang busana Indonesia ikut berpartisipasi dalam acara ini.

Namun tentunya pertumbuhan ini tidak boleh berhenti sampai di sini, dengan adanya modal ilmu pengetahuan dan pengertian konsep desain yang benar melalui pendidikan formal yang ditawarkan oleh para universitas dan intitusi pendidikan, tentunya negara kita tidak lagi hanya dapat meniru ide atau desain orang lain, melainkan menampilkan ide dan sesuatu yang original. Yang kemudian didukung dengan konsistensi untuk tetap menjadi innovative sebagai kunci sukses utama di dalam industri kreatif baik di dalam maupun luar negeri. Maka dari itu untuk apa menunggu? Let’s start our new creative industry venture! Why not?

As it was published in Investor Daily, 1st June 2010


Ulang Tahun Ibukota Jakarta yang ke 483 by winasukowati

Lampu hias di jalan-jalan utama, boneka ondel-ondel yang telah dipasang untuk menyambut Ulang Tahun Ibukota Jakarta yang ke 483 ikut meramaikan pemandangan Kota Jakarta bulan ini. Sebagai kota yang berpenduduk sebanyak lebih dari delapan juta jiwa membuat Jakarta menjadi salah satu kota terbesar dunia yang menjadi pusat perekonomian sekaligus pemerintahan negara kita, Republik Indonesia.

 

Sebagai penduduk Jakarta yang lahir, tumbuh dan tinggal di kota Jakarta, saya  merasa bangga sekaligus kecewa dengan pertumbuhannya yang sangat pesat namun tidak dibarengi dengan kesiapan infrastruktur yang tepat. Semakin banyaknya gedung-gedung pencakar langit, pusat perbelanjaan seperti mal dan apartemen justru mengurangi tingkat kenyamanannya. Jakarta yang semakin padat penduduk mengakibatkan kemacetan lalu lintas yang luar biasa yang pada akhirnya membatasi mobilitas masyarakatnya.

Setelah delapan tahun pergi meninggalkan dan dua tahun kembali tinggal di Jakarta, saya menyadari hal utama yang tidak dimiliki kota Jakarta yaitu privilege untuk menikmati asyiknya berjalan di atas trotoar. Kota Jakarta bukanlah kota yang ramah untuk seluruh masyarakatnya. Trotoar atau jalur untuk pejalan kaki belum mendapatkan perhatian khusus dan sering dijadikan sebagai tempat untuk berjualan atau jalur bagi pengendara sepeda motor pada saat lalu lintas sedang padat.

Kebiasaan saya untuk memakai transportasi publik tidak lagi saya miliki saat saya kembali tinggal di Indonesia terutama Jakarta. Walaupun saat ini telah tersedia Busway, tetap saja kenyamanan yang kita dapatkan pun sangat terbatas, masih banyak orang-orang tertentu yang mengambil kesempatan dalam kesempitan. Seperti pick pocket (copet) ataupun kasus pelecehan seksual kepada pengguna Busway yang mengakibatkan adanya peraturan baru untuk memisahkan penumpang pria dan wanita. Sehingga sistem transportasi publik justru bukan menjadi pilihan pertama tetapi yang terakhir.

Di balik semua itu, tentunya ada beberapa program lain yang dibangun oleh pemerintah DKI Jakarta yang secara nyata membuahkan hasil yang positif dan dapat dinikmati oleh seluruh lapisan penduduk kota Jakarta. Seperti adanya program pembangunan kembali taman-taman kota, gerakan berjalan dan bersepeda bersama setiap hari minggu pagi di Jalan Jendral Sudirman.

Lebih lagi di mana terlihat perbedaan yang signifikan pada suasana alun-alun di depan Museum Fatahillah yang kini digunakan sebagai public space (town square) dan dapat dirasakan sebagai pusat kota yang sesungguhnya seperti yang terdapat di kota-kota di Eropa.

Namun sekarang pertanyaannya adalah berapa banyak dari kita, penduduk kota Jakarta yang sungguh-sungguh mengenal kota tempat tinggal kita? Dapatkah kita menggambarkan atau menjelaskan tentang bagaimana kota Jakarta kepada teman-teman kita dari daerah maupun negara lain? Sudahkah kita benar-benar merasa menjadi bagian dari Jakarta?

Jika memang sudah, kemudian pertanyaan selanjutnya adalah: Pernahkah kita mengunjungi Museum Nasional (Gajah), Maritim, Fatahillah atau pun Pelabuhan Sunda Kelapa yang dipenuhi dengan kapal-kapal pengangkut barang tradisional (terbuat dari kayu) yang justru menjadi mitos populer di kalangan masyarakat Barat sebagai Boogie Man Boat (Kapalnya orang Bugis)? Apakah kita (seperti sebagian besar penduduk Jakarta) hanya menghabiskan akhir pekan dengan menonton film di bioskop atau jalan-jalan di mal?

Sikap ignorance ini diperburuk dengan response pemerintah DKI Jakarta yang lebih sering menonjolkan tradisi kebudayaan Betawi saja. Sedangkan pada kenyataannya Jakarta sebagai kota metropolitan tidak hanya dihuni oleh penduduk asli Betawi, tetapi juga sebagian besar oleh pendatang. Menurut sejarah, sejak dulu orang Belanda, pedagang dari Cina, Arab dan negara lainnya sudah singgah dan tinggal di Batavia (Jakarta) sekaligus ikut membesarkan namanya. Hal ini dapat terlihat saat kita berjalan menuju Kota Tua, di mana masih terdapat beberapa bangunan tua dengan gaya Belanda maupun Cina.

Namun sayang sekali  kini sebagian besar bangunan sejarah tersebut terbengkalai dan sudah tidak terawat. Padahal justru ini adalah aset utama yang menjadi daya saing yang hanya dimiliki oleh Kota Jakarta. Yang tentunya dapat dijual kepada wisatawan domestik maupun mancanegara. Maka sungguh disayangkan jika penduduk Jakarta maupun masyarakat Indonesia hanya menggunakan tempat-tempat ini sebagai lokasi pemotretan saja, seperti foto untuk pre-wed yang sering terlihat pada pesta pernikahan.

Bisa saja hal ini disebabkan oleh konsep tata ruang di negara kita sendiri masih kurang memperhatikan pelestarian bangunan-bangunan tua yang merupakan sejarah berharga. Banyak rumah-rumah yang telah dibangun sejak jaman Belanda yang begitu saja digempur dan diubah menjadi rumah-rumah modern seperti yang ada di daerah Menteng dan Kebayoran. Si pemilik rumah tentunya tidak perlu meminta ijin khusus untuk merubah bagunan rumahnya.

Tidak seperti di Inggris misalnya, di mana yang dapat diubah hanyalah ruangan yang ada di dalam rumah tersebut bukan tampak luarnya. Karena rumah tersebut dianggap menjadi salah satu milik negara atau publik yang harus dilestarikan. Sehingga para wisatawan yang berkunjung ke kota-kota di Eropa seperti London, Edinburgh, Paris dan Roma masih dapat menikmati bukti nyata dari sejarah perkembangan kota tersebut. Bagaikan living gallery yang memberikan nilai tambah yang hanya dimiliki oleh negara tersebut.

Maka diharapkan promosi kota Jakarta tidak lagi menonjolkan aspek konsumerismenya saja, tetapi juga dilihat dari sisi sejarah dan way of life (tradisi). Sehingga tidak hanya berfungsi sebagai pusat bisnis tetapi juga sebagai tempat tinggal ideal yang memberikan kualitas hidup yang tinggi bagi penduduknya.

Untuk menyambut Ulang Tahun Kota Jakarta tahun ini, kita dapat memulainya dengan kembali mengunjungi museum-museum yang ada di kota Jakarta, menjaga kebersihan rumah, lingkungan dan saluran pembuangan air dengan tujuan untuk mengurangi frekuensi banjir, sekaligus melakukan kegiatan penghijauan seperti yang telah dilakukan oleh Greenmap Indonesia dan Komunitas Hijau Pondok Indah.

Jadi tunggu apalagi? Ayo perduli!

As it was published in Investor Daily 22nd June 2010

 


Infrastruktur sebagai Pendukung Utama Industri Pariwisata by winasukowati

Untuk kedua kalinya saya membatalkan rencana rekreasi pada akhir pekan beberapa waktu lalu, yang hanya dikarenakan oleh perubahan jadwal pada satu-satunya penerbangan yang tersedia dengan tujuan Bima untuk ke Pulau Komodo. Jika saya memutuskan untuk tetap berangkat, diundurnya penerbangan arah balik dari Bali ke Jakarta akan mengakibatkan saya dan keluarga harus menunggu di Bandara Ngurah Rai selama sembilan jam dibandingkan dengan hanya satu jam menurut jadwal yang ditawarkan sebelumnya pada saat saya membayar tiket tersebut.

 

Anehnya, informasi perubahan jadwal ini baru saja saya dapatkan satu hari sebelumnya, lebih tepatnya yaitu dua belas jam sebelum waktu keberangkatan. Terus terang saat saya mendengar berita tersebut, saya sangat terkejut, kecewa sekaligus tidak heran. Seperti de ja vu, hal yang sama pernah terjadi pada rencana liburan saya ke Pulau Sumba dua tahun yang lalu.

Hingga pada akhirnya saya teringat pada iklan Visit Indonesia yang dipromosikan melalui beberapa media seperti radio, majalah maupun televisi yang bertujuan menggalakkan wisata dalam negeri seperti Pulau Komodo. Di mana tidak sedikit kaum masyarakat termasuk saya sendiri yang ikut berusaha mengajak teman-teman dan murid-murid saya untuk mengunjungi daerah-daerah wisata dalam negeri sendiri.

Tetapi kembali lagi pada pertanyaan mengapa negara Indonesia yang begitu besar dan penuh dengan keindahan alamnya hanya dapat mencapai target wisatawan mancanegara sebanyak enam juta pertahun saja? Jumlah yang sangat kecil dibandingkan dengan negara tetangga kita Malaysia sebanyak lebih dari dua puluh juta, Singapura sebanyak lebih dari sepuluh juta dan Thailand sebanyak lebih dari empat belas juta wisatawan dari seluruh penjuru dunia termasuk sebagian besar dari Indonesia.

Tentunya hal ini sangat berkaitan dengan faktor kenyamanan dan kemudahan untuk mengunjungi negara-negara tersebut. Diawali dari segi transportasi dengan adanya maskapai dan jadwal penerbangan yang regular dan reliable. Misalnya seperti penerbangan Jakarta ke Singapura yang ditawarkan oleh tidak kurang dari lima maskapai penerbangan baik dalam negeri maupun luar negeri. Di mana Singapore Airlines sendiri saja setiap harinya memiliki penerbangan Jakarta-Singapura pulang-pergi sebanyak tujuh kali.

Sedangkan penerbangan ke daerah-daerah wisata di Indonesia seperti Wakatobi, Labuhan Bajo dan Bima misalnya hanya dimiliki oleh satu maskapai penerbangan saja. Itu pun tidak rutin ada setiap harinya, dalam seminggu misalnya hanya ada dua atau tiga kali penerbangan saja di mana jadwalnya pun masih belum pasti. Maskapai penerbangan dapat sewaktu-waktu mengubah atau membatalkan penerbangan tersebut sesuai dengan kepentingan komersial mereka sendiri tanpa memikirkan kepuasan pelanggan.

Berdasarkan pengalaman saya saja, mereka hanya menawarkan untuk mengembalikan biaya tiket yang telah terbayar dengan jumlah yang telah dipotong dengan biaya admistrasi dan sebagainya. Sedangkan kerugian lain seperti non-refundable boat trip dari Bima menuju Komodo dan akomodasi yang juga telah saya bayar secara penuh tidak menjadi perhatian mereka sama sekali.

Faktor berikutnya adalah tersedianya fasilitas akomodasi seperti penginapan dan restaurant yang layak, dengan biaya yang affordable. Sering kali penginapan yang baik dan berstandard international di daerah-daerah wisata yang sangat indah seperti Raja Ampat, Wakatobi, Sumba dan Pulau Moyo ditawarkan dengan harga yang sangat tinggi. Ditambah lagi dengan peraturan khusus seperti minimum stay selama empat atau lima hari yang membuat harganya semakin tidak terjangkau lagi.

Tentunya hal ini semakin menambah keengganan para wisatawan Indonesia yang terkenal “praktis” dan “tidak mau pusing” untuk mengunjungi daerah wisata di negaranya sendiri. Apalagi ditambah dengan kenyataan bahwa biaya yang dikeluarkan juga bisa sama atau lebih banyak.

Jadi jangan heran jika teman-teman atau orang-orang di sekeliling kita hanya tertarik untuk berlibur ke Bali sebagai tujuan wisata dalam negeri mereka. Walaupun dalam segi keindahan alamnya Bali cenderung telah over-exposed dan crowded, tetapi dari segi kenyamanan (comfort) dan kemudahan (convenient) Bali memiliki segalanya yang dibutuhkan oleh wisatawan baik dalam maupun luar negeri.

Ditambah dengan berbagai jenis aktifitas lain yang dapat dilakukan selama berlibut, seperti  tersedianya restaurant dari berbagai macam cuisine untuk tujuan wisata kuliner, pusat perbelanjaan yang menawarkan kerajinan tangan khas Bali, tempat olah raga air untuk diving, snorkelling, jet ski, bungee jumping, ataupun tempat hangout dan hiburan malam seperti kafe dan lounge.

Maka peran Pemerintah Indonesia sangatlah penting untuk memastikan kesiapan infrastuktur tidak hanya di Bali saja tetapi juga daerah wisata lainnya untuk mendukung program Visit Indonesia yang telah dicangangkan sejak tahun 2008. Seperti di dalam bukunya yang berjudul Innovation Management and Product Development (2008), Paul Trott menjelaskan bahwa salah satu peran pemerintah yang mendukung bertumbuhnya innovativeness di dalam suatu negara adalah dalam penyediaan complementary assets (aset pendukung) seperti jalan yang baik, listrik, air, sistem komunikasi, legal infrastructure yang dapat membantu berkembangnya suatu enterprise.

Dalam hal ini dapat diwujudkan melalui jalur tranportasi yang jelas dan pasti (reliable), baik udara, darat maupun laut, tempat penginapan, restaurant yang layak tentunya harga yang affordable. Last but not least, adanya information centre yang dapat diakses dengan mudah baik secara online ataupun langsung dan tersedia pada setiap Bandara, stasiun atau tempat publik lainnya. Seperti informasi mengenai contact person, travel agent, tempat penginapan, kegiatan yang dapat dilakukan, berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan sampai pemesanan/pembayaran paket wisata melalui Internet.

Sungguh mengenaskan jika kampanye untuk menetapkan Pulau Komodo sebagai salah satu daerah dari New Seven Wonders of Nature hanya menghasilkan kekecewaan bagi para calon pengunjung. Yang disebabkan oleh sulitnya cara menuju ke sana dan begitu besarnya effort yang harus dikeluarkan baik itu secara waktu, pikiran, tenaga maupun biaya.

 


The ABCDE on Getting a Scholarship and Studying in the UK (Part 1) by dianelvira

 Ever since I was assigned to be the Education UK Ambassador on duty, I've been receiving a lot of emails asking about scholarships to study in the UK. Hence, I've decided to write a list of questions along with their answers to respond to similar queries that keep arising. This will be the first of (perhaps) a 2-part article. On this occasion I will focus more on aspects of how to apply and what requirements you will need to fulfill to study in the UK. The second part will discuss tips on successfully obtaining scholarships and ways to maximize your study time in the UK.

1. Where can I find out more about universities in the UK?

You can find a wealth of information on this website: http://www.educationuk.org/ This is your gateway to all things related to UK education, and seriously provides SO much excellent information. I highly recommend you to read it. Not only will you find details about universities, but also about student life, travel documents to bring to the UK, and a whole lot of other useful information.

2. What scholarships are available in the UK?

UK's flagship scholarship is the Chevening, sponsored by the Foreign Commonwealth Office. This year, the recently elected government decided upon major public spending cuts which unfortunately will have implications for the future of Chevening. Scholarship recipients from Indonesia for academic year 2010/2011 have been chosen, but there will be less certainty on the number of scholarships that will be provided for the following academic years. Please check the British Council Indonesia page regularly at www.britishcouncil.org/indonesia.htm for further information. Applications for Chevening generally open towards the end of the calendar year, approximately in October to November and closes in the first quarter of the following calendar year. The academic year in the UK begins in September.

Some other scholarships that are currently available to Indonesian students can be seen her http://www.britishcouncil.org/indonesia-general-info-scholarships.htm  

A lot of universities in the UK also provide scholarships for international students once you have started your studies. For example, my friend from Azerbaijan, who studied at Nottingham University, paid only 30% of her tuition fees while 70% was waived by the university.

3. If I am seeking a sponsor for my studies, do I apply direct to the university or through my sponsor?

This depends on the type of sponsorship you are looking for. For Chevening, you will have to be a successful recipient of the scholarship first, after which you need to PERSONALLY apply to your chosen university. If you are seeking partial sponsorship, you may apply to the university direct and inquire (usually to the 'student services' department or the likes) about the sponsorships that the university is offering. Some universities offer tuition fee discount and research funding once you are already admitted to the course.

4.  What is the role of the British Council Indonesia in matters of scholarships?

BC Indonesia administers the application process for Chevening and a few other scholarships. However, the BC does NOT scholarships direct. You can read more about what BC does in Indonesia here: http://www.britishcouncil.org/indonesia-common-frequently-asked-questions-general?mtklink=indonesia-common-frequently-asked-questions-general.htm

5.  What documents do I need to submit for admission to a UK university?

This differs depending on the department and university, but as a general overview, you will need to send a completed application form, recommendation letter(s), IELTS score, CV, and if not sponsored proof of financial capacity to finance your whole study in the UK. An excellent article on entry requirements for UK study can be read here: http://www.educationuk.org/Article/Entry-requirements-for-UK-study For undergraduate studies, this article is a must read as it will inform you about UCAS (Universities and Colleges Admissions Service), which is a centralized application process especially for UK undergraduate study.  http://www.educationuk.org/Article/UCAS-applications-for-UK-study  

6. What is the language requirements to study in the UK?

Students will have to demonstrate a minimum level of English fluency by taking the IELTS test. This can be taken in several language institutions such as IALF. Depending on the department at which you wish to study, the minimum IELTS for postgraduate study is in the range of 6.5 to 7.5.

7. Where can I find out more about student visa regulations?

The UK Border Agency website one of the first sites you should check: http://www.ukvisas.gov.uk/en/aboutus/features/studyingintheuk Please note that the British Embassy in Jakarta NO longer accepts visa applications. To apply, you will need to go to VFS http://www.vfs-uk-id.com/ You are strongly encouraged to apply online (as this will expedite the application process) AND direct to the office, located in:

PT VFS Services Indonesia, Lt. 22, Zone B, Plaza Abda, Jl. Jendral Sudirman Kav 59, Jakarta - 12190.

The opening hours are Monday to Friday (except public holidays). Passport submission is from 08:00 - 12:00 and 13:00 - 15:00; while passport collection starts from 08:00 - 12:00 and 13:00 - 16:00.

8. Where can I find out about UK university rankings?

Although there is no single best indicator on the ranking of universities in the UK, you can check out The Times Good University Guide and the Guardian University Guide, published annually.

9. How much does it cost to study in the UK?

Again, this varies according to the course you want to take and the city in which you live. For postgraduate studies, the total tuition fee for the international students range from 10,000-12,000 GBP. Note that masters programme in the UK only take 1 year to complete.

Living expenses are variable costs which you can manage if you are under a tight budget. As a rough illustration, accommodation costs between 300-450 GBP. You can rent a room in the university dormitory, or rent out a private flat (either through letting agencies or to the owners direct) and share with a few colleagues (this alternative usually offers more ‘freedom’ and flexibility, and can be cheaper if you’re lucky).

For food, do not think about eating out in restaurants or even buy fast food unless you want to go overboard on your food budget. A much better and healthier option is to COOK for yourself. This will cost you about 100-150 GBP (meaning your weekly grocery shopping can be kept down to 20-25 GBP). For those of you whose forte does not include cooking, never fear! I guarantee you will be a better cook once you study abroad and live independently. And after a while, you may also find cooking a nice pastime to share with friends. One of my favourite things to do in my past time was certainly cooking together with flat mates and friends, and afterwards chat and laugh together, and sometimes watch a DVD too.

Other than food, you will need to allocate anything in the range of 20-50 GBP for transportation per month, depending whether you live close to your university and whether you like to go out a lot. Holiday travels will naturally cost more.

So in theory, for the average city in the UK, your monthly living costs should be around 700 GBP. For the bigger cities such as London, you will usually need about 900 GBP per month since accommodation is relatively much more expensive.

10. Can you tell me more about religious and cultural diversity in the UK?

The UK is a melting pot for international students and communities, more so for some cities than others. London has a large population of Indian, Pakistani, Chinese, and European communities. There is really NO worry whatsoever that you will not fit in, in terms of where you come from, because my experience of living in the UK for 1.5 years (in Scotland and London to be exact) tell me that you can meet people from all kinds of backgrounds, and that your personal values and individuality are highly respected. Being a Muslim who wears a headscarf, I initially thought that I may have a hard time to mingle with other students or people in general. But that was not the case. Not once did I find racial or religious discrimination, and not once did I experience unpleasantness related to my wearing a headscarf. The UK is a multitude of faiths and beliefs, and there is a high level of religious tolerance. To illustrate, once I walked into a church in one of Edinburgh’s main streets which had a small souvenir shop (most of the larger churches in Scotland would have a canteen and a small gift shop). I was quite surprised to find that the church was raising money to give to the people in Gaza, by selling unique handicrafts. The lady and gentlemen manning the shop were very friendly and we discussed about the hardships and issues related with Gaza.

 

Okay folks. I hope the above has been helpful for you. More tips and info on UK study coming soon in Part 2, so watch this space :)


Sapu Angin 2 from ITS Breaks Record for Urban Concept Combustion Category at the First Shell Eco-marathon Asia 2010 by Silva Basuki

 

Representatives of talented Indonesian youngsters proudly marked achievements in prestigious event of Shell Eco Marathon 2010 in Malaysia. Once again, a remarkable accomplishment that surely will inspire and encourage other youngsters of this nation to be always the best for the greater sake of Indonesia. So here goes the story, on courtesy of Ms. Sri Wahyu Endah, Corporate Social Investment Manager, Shell Indonesia.

Nine Indonesian teams swept a total of seven prizes at the inaugural Shell Eco-marathon Asia, held in Kuala Lumpur, Malaysia, early this month. Teams from four leading universities in Indonesia, ITS, UI, ITB and UGM competed at the event, held at the Sepang F1 Circuit from July 8-10. They did not disappoint. Indonesian teams returned home with proud achievements including winning the first, second and third prize in the Urban Concept Combustion category, first prize in the Gasoline Fuel Award, first prize in the People’s Choice Award and finalists in the Auto-Desk Design award.

The Sapu Angin 2 team from ITS achieved 237.6 kilometres per litre, to take home the first prize in the Urban Concept Combustion category, which breaks the record set at Shell Eco-marathon Americas this year (185.87 km/l). The Sapu Angin 2 team also took home the Urban Gasoline Fuel Award.

Sapu Angin 2 from ITS

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bringing the competition to Asia helps make this programme a true global initiative for Shell. Open to colleges, universities and technical institutes, SEM Asia 2010 challenges student teams to put their innovations to the test in two vehicle categories: Prototype - futuristic, streamlined vehicles focused on maximising fuel efficiency through innovative design elements; and Urban Concept - focused on more roadworthy fuel-efficient vehicles.

The event that was held on July, 8th-10th 2010 attracted strong responses from China, India, Indonesia, Iran, Malaysia, Pakistan, the Philippines, Singapore, Taiwan, Thailand and Vietnam that represented by 81 teams. For Indonesia itself, SEM Asia 2010 was participated by 9 teams including 3 teams from Bandung Institute of Technology (ITB) with the Heave-EXIA, Rajawali, and Cikal; 3 teams from University of Indonesia (UI) with their Equator, Pasoepati, and Keris; 2 teams from Sepuluh November Institute of Technology (ITS) with Sapu Angin 1 and Sapu Angin 2; and 1 team from UGM (Gadjah Mada University) with Semar.

Three Indonesia Teams (one team from Sepuluh November Institute of Technology and two teams from University of Indonesia) grabbed the champion of Urban Concept Combustion Grand Prize. The Sapu Angin 2 team from Sepuluh November Institute of Technology with its Mesin ITS 2 achieved 237.6 km/l and became the first winner in this category. Meanwhile Yellow Makara team with the Pasoepati vehicle and Zamrud Khatulistiwa team with its Equator from University of Indonesia took the second and third prize with 61.8 km/l and 54.5 km/l. Galih Atmodjo, Team Chief of Sapu Angin 2, acknowledged, “We are able to achieve this with solid teamwork and detail preparation.”

 

SEM Asia 2010 Flag-off event

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Besides Urban and Prototype Grand Prize, SEM Asia 2010 also included winners from special categories, i.e: People’s Choice Award, Auto-Desk Design Award, and Safety Award. These award categories reflected Shell’s commitment to stimulate and increase young generation creativity and inovation by showing high appreciation towards their works. People’s Award was awarded to The Exia team from Bandung Institute of Technology with its Heave-Exia vehicle. Exia team successfully achieved more than 65.000 votes and being acknowledged  as the most popular team amongst others.

In the Auto-Desk Design Award, the top five finalists included The Dazzling team and Yellow Makara team from University of Indonesia. This category recognises innovative design research in terms of ergonomics, aesthetics, choice of materials and technical feasibility. The originality and overall coherence of the design are also taken into account. The term “design” includes: vehicle structure, driving position, the engine, steering, suspension, braking, etc.

The participation and achievements of Indonesia teams in Shell Eco-marathon Asia 2010 indicate the great potential of Indonesian young generations to solve the future energy challenge issues that will contribute positively to both Indonesia and world society. SEM Asia 2010, inevitably, has been an event that created enourmous sounding of technology improvement in Indonesia.

The Shell Eco-marathon (SEM) is Shell’s flagship event championing fuel economy.  It is about distance, not speed.  The competition challenges student teams to design and build energy-efficient vehicles that travel the farthest distance using the least amount of fuel.

Began in 1939 at a Shell research laboratory in the United States as a friendly wager between scientists, Shell Eco Marathon started its first program in 1985 in France and currently has reached Europe, America (started in 2007), and only this year in Asia. The record breakers of SEM Europe 2010 were De Haagse Hogeschool, Netherlands reaching 747.2 km/liter for and Polytechnic Nantes, France for prototype category with 4896.1 km/liter.

At SEM Americas, Laval University of Quebec, Canada got the best mileage of 1,057.5 kilometers per litre for prototype category and in Urban type Mater Dei High School led with 185.87 km per liter.

***


Recent Post Message
Buat rekan2 yg tau contact no ato email address PPI Leeds, pls inform me. thx. wijayah@yahoo.com [ more ]
Sampoerna is currently searching for Graduate Trainee, login and check Job section for further detai... [ more ]
New 3 job opportunities are available. Use your login to get the detail info. 04.05.10 [ more ]
More news about Indonesia in Harrods London, see news page for further details. 03.05.10 [ more ]
Ghea S Panggabean Bangga Promosikan Indonesia di Harrods Rabu, 14 April 2010 05:06 WIB | Ekonomi & B... [ more ]
[ 0 ] Post(s) available